Kamis, 26 Juni 2008

ANEMIA

Anemia adalah penurunan kuantitas atau kualitas sel darah merah (SDM) dalam sirkulasi. Anemia dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah merah, peningkatan kehilangan sel darah merah akibat perdarahan kronik atau mendadak, atau lisis (penghancuran) sel darah merah yang berlebihan.

Anemia Akibat Penurunan Kualitas SDM
Anemia yang terjadi akibat gangguan kualitas pembentukan sel darah merah (SDM) terjadi apabila sel darah merah berukuran terlalu kecil (mikrositik) atau terlalu besar (makrositik). Anemia yang berkaitan dengan kualitas sel darah merah juga muncul apabila terjadi gangguan pembentukan hemoglobin. Hal ini akan menyebabkan konsentrasi hemoglobin sangat tinggi (hiperkromik) atau sangat rendah (hipokromik).

Anemia Akibat Lisis atau Perdarahan Mendadak
Anemia akibat lisis atau perdarahan mendadak berkaitan dengan penurunan jumlah total sel sel darah merah dalam sirkulasi. Masa hidup sel darah merah yang normal sekitar 120 hari. Destruksi atau penghancuran sel darah merah yang terjadi sebelum 100 hari adalah kondisi yang tidak normal.

Senin, 23 Juni 2008

Leukositosis

Leukositosis adalah keadaan dengan jumlah sel darah putih dalam darah meningkat, melebihi nilai normal. Leukosit merupakan istilah lain untuk sel darah putih, dan biasanya tertera dalam formulir hasil pemeriksaan laboratorium atas permintaan dokter. Peningkatan jumlah sel darah putih ini menandakan ada proses infeksi di dalam tubuh. Nilai normal leukosit adalah kurang dari 10.000/cu mm.

Rabu, 11 Juni 2008

AGNOSIA

Agnosia adalah kegagalan mengenali suatu objek karena ketidakmampuan mengartikan stimulus sensorik yang datang. Agnosia dapat bersifat visual, auditorius, taktil, atau berkaitan dengan rasa/pengecapan atau bau. Agnosia terjadi akibat kerusakan di area sensorik primer atau asosiatif tertentu di korteks serebri

Selasa, 10 Juni 2008

JET LAG

Jet Lag, gangguan fisiologis seperti malaise (kelelahan), sakit kepala, dan insomnia, yang dikaitkan dengan perjalanan udara yang melintasi zona waktu yang berbeda. Jet lag terjadi ketika jam biologis individu (irama sirkadian) yang melakukan perjalanan jauh tidak sesuai dengan zona waktu di tempat tujuan, sehingga mengganggu pola harian tidur, makan, dan aktivitas lainnya. Beberapa atau semua gejala dapat terjadi selama beberapa hari sampai tubuh mampu menyesuaikan dengan waktu di sekitarnya. Jet lag harus dibedakan dengan keletihan akibat stres atau keletihan karena perjalanan jauh.

Penyebab
Jet lag hanya terjadi pada penerbangan ke arah timur atau barat yang melintasi tiga atau lebih zona waktu yang berbeda. Penerbangan dari selatan ke utara atau sebaliknya tidak melintasi zona waktu yang berbeda dan tidak menyebabkan jet lag. Teknisnya demikian, jika seseorang terbang mengelilingi bumi dan kembali ke zona waktu yang sama, dia tidak akan mengalami jet lag.
Orang yang melakukan penerbangan ke arah timur biasanya mengalami jet lag yang lebih para daripada ke arah barat. Karena satu hari di bagian timur lebih pendek, individu yang terbang ke arah timur akan mengalami gangguan irama sirkadian lebih berat dan perlu waktu 50% lebih lama untuk kembali pulih. Jika individu terbang dari timur ke barat, dia akan mengalami satu hari yang lebih lama dari biasanya; siklus normal tubuh sekitar 25 jam, akan lebih mudah bagi tubuh untuk menyesuaikan perubahan ini.
Secara normal irama sirkadian tubuh setiap hari menyesuaikan dengan siklus malam dan siang, sehingga berkaitan dengan sinar matahari. Faktor lain, seperti makanan, minuman, kerja, aktivitas, alarm penanda waktu, dan kebisingan, turut berperan dalam usaha tubuh menyesuaikan dengan dengan jam tubuhnya (internal). Apabila tubuh tiba-tiba dipaksa ke zona waktu yang berbeda, semua penanda waktu ini tidak sesuai dengan irama alami tubuh dan menimbulkan gejala jet lag.
Siklus terang dan gelap mengendalikan irama sirkadia melalui kelenjar pineal.ketika sinar masuk ke mata mencapai retina, kemudian memberi sinyal ke hipotalamus yang mengendalikan kelenjar pineal. Kelenjar pineal ini kemudian mengeluarkan melatonin, yang bertanggung jawab untuk mengatur mengantuk saat malam dan terjaga di siang hari.

Gejala
Perlu waktu sampai dua minggu untuk pulih dari jet lag. Gejalanya meliputi tidur seharian; insomnia; disorientasi; sulit berkonsentrasi; refleks lebih lambat; gangguan pencernaan, penurunan selera makan, merasa lapar di waktu-waktu yang tidak biasanya; pergi ke kamar mandi lebih sering di malam hari; peka rangsangan, depresi, gangguan mood (yang mungkin disebabkan kurang tidur); sakit kepala; gangguan siklus menstruasi, yang terutama cenderung terjadi pada wanita yang sering bepergian, seperti pramugari.
Individu yang sedang menjalani terapi obat oral mungkin akan mengalami efektivitas obat yang bervariasi. Individu yang menderita ulkus peptikum (gangguan pencernaan) mungkin akan semakin parah. Kondisi ini disebabkan produksi asam lambung yang efeknya sebagai pelindung mukosa saluran pencernaan menurun akibat tidak masuknya makanan di waktu yang seharusnya.

Pengobatan
Pengobatan harus didasarkan pada penyebab gejala sehingga akan lebih efektif. Jika perjalanan hanya dalam beberapa hari, mempertahankan pola rutin tubuh mungkin dapat tetap dilanjutkan. Sebagai contoh, waktu makan dan tidur di jam biasa seperti saat di rumah, dan menyesuaikan pergi keluar saat tubuh mengira melakukannya di waktu siang hari. Diet berperan penting untuk mengurangi efek jet lag; menghindari alkohol, sebelum, setelah, dan segera setelah penerbangan, dan mengonsumsi cairan yang tidak mengandung alkohol selama penerbangan sangat dianjurkan. Penelitian terkini menyarankan suplemen melatonin juga dapat mengurangi jet lag.

Sumber: "Jet Lag." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

Minggu, 25 Mei 2008

Antiseptik

Antiseptik, adalah zat fisis atau kimiawi yang mencegah pembusukan, infeksi, dan perubahan analog seperti pada makanan dan jaringan hidup dengan menghancurkan atau menghentikan perkembangan mikroorganisme. Sejak dahulu pengawetan makanan menggunakan zat antiseptik seperti penggunaan panas pada proses memasak; natrium, garam, dan asam cuka pada asinan dan acar; dan pengasapan pada daging asap. Di zaman modern, prinsip antiseptik ini digunakan untuk mengawetkan makanan melalui pemanasan dan pendinginan seperti pada proses pengalengan, pasteurisasi, dan pembekuan. Iridiasi tengah diteliti sebagai alat pengawet makanan.

Praktik penggunaan antiseptik dalam perawatan dan pengobatan luka dipelopori oleh ahli bedah Inggris Joseph Lister pada tahun 1865. Dasar penelitiannya adalah temuan dari ahli fisioligi Jerman Theodor Schwann dan ahli biokimia Perancis Louis Pasteur, Lister melakukan disinfeksi luka bedah atau luka trauma dengan larutan asam karbolat, dan dalam lima tahun berhasilkan menurunkan angka kematian utama akibat amputasi yang mencapai 50% menjadi sekitar 12%. Banyak jenis antiseptik yang digunakan kemudian, di antaranya yang paling sering digunakan adalah mercury, iodine, boric acid, alcohol, the hypochlorites, mercurochrome, and Merthiolate. Klorin digunakan untuk mensterilkan air dan terutama sistem air publik (PAM) dan kolam renang.

Antibiotik

Antibiotik berasal dari bahasa Yunani (anti,“melawan”; bios, “hidup”) merupakan senyawa kimiawi yang digunakan untuk membunuh atau menghambat perkembangan kuman penyebab infeksi.

Pada awalnya istilah antibiotik digunakan hanya untuk senyawa organik, yang dihasilkan oleh bakteri atau jamus, yang bersifat toksik untuk organisme lain. Akan tetapi, saat ini istilah antibiotik digunakan secara luas termasuk untuk senyawa organik semisintetik dan sintetik. Antibiotik biasanya mengarah ke antibakteri, tetapi karena maknanya lebih luas, isitlah antibiotik juga digunakan untuk senyawa yang digunakan sebagai antimalaria, antivirus, atau antiprotozoa.

Antibiotik bekerja melalui berbagai cara. Metode yang paling umum menggolongkan antibiotik sesuai dengan caranya menghancurkan organisme penyebab infeksi. Beberapa bakteri menyerang dinding sel; ada yang merusak membran sel; dan yang paling umum menghambat sintesis asam nukleida dan protein, yaitu polimer pembentuk sel bakteri.

Rentang Efektivitas Antibiotik
Pada beberapa jenis bakteri, dinding bakteri terutama tersusun dari lapisan tebak peptidoglikan. Jenis lainnya mungkin memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis di lapisan dalam dan lapisan luar. Apabila bakteri diberi perwanaan Gram (Gram’s stain), perbedaan struktur ini menentukan pewarnaan bakteri dengan pewarna yang disebut gentian violet. Perbedaan pewarnaan ini (bakteri gram positif tampak ungu dan gram negatif tampak kemerahan atau tidak berwarna, bergantung proses yang dilakukan) merupakan dasar penggolongan bakteri menjadi gram positif (peptidoglikan tebal) dan gram negatif (peptidoglikon dan membran luar tipis), karena berkaitan denga struktur sel bakteri.

Antibakteri juga dibagi ke dalam spektrum sempit dan spektrum luas. Penisilin spektrum sempit bekerja pada bakteri gram positif. Aminoglikosida, juga spektrum sempit, bekerja pada berbagai bakteri gram negatif dan juga beberapa bakteri gram positif. Tetrasiklin dan kloramfenikol adalah obat spektrum luas karena efektif untuk bakteri gram positif dan juga gram negatif.

Antibiotik juga diklasifikasi sebagai bakterisida (membunuh bakteri) atau bakteriostatik (menghentikan pertumbuhan dan multiplikasi bakteri). Obat bakteriostatik cukup efektif karena bakteri yang dihambat pertumbuhannya akan mati atau dihancurkan oleh mekanisme pertahanan pejamu (penderita). Tetrasiklin dan sulfonamid adalah contoh antibiotik bakteriostatik. Antibiotik yang merusak membran sel menyebabkan kebocoran metabolit sel dan akhirnya membunuh organisme. Contoh senyawa ini antara lain penisilin dan sefalosporin.

Kamis, 22 Mei 2008

ALZHEIMER

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia (kemunduran kemampuan kognitif dan intelektual) yang progresif, ditandai dengan kematian saraf-saraf di otak yang meluas, terutama di daerah otak yang disebut nukleus basalis. Saraf saraf ini bertanggung jawab untuk fungsi ingatan dan pengenalan. Saraf saraf tersebut mengeluarkan asetilkolin, yang berperan penting dalam membentuk ingatan jangka pendek di tingkat biokimiawi (proses kimia di tubuh). Dibandingkan mereka yang meninggal akibat sebab sebab lain, pada otak pasien yang meninggal akibat penyakit Alzheimer terjadi penurunan sampai 90% kadar enzim yang berperan dalam pembentukan asetilkolin, yakni kolin asetiltransferase. Tidak adanya asetilkolin menyebabkan penyakit Alzheimer seperti, mudah lupa dan mengalami penurunan fungsi kognitif. Pada para pengidap penyakit ini, neurotransmitter lain juga tampak berkurang.
Penyakit Alzheimer biasanya mulai terjadi pada usia setelah 65 tahun dan menimbulkan demensia senilis (akibat penuaan). Namun, penyakit ini dapat muncul lebih dini dan menyebabkan demensia prasenilis (sebelum usia lanjut). Penyakit ini juga diturunkan secara genetik, terutama pada penyakit prasenilis.

Proses Terjadinya Alzheimer
Temuan otopsi yang paling menonjol dari pasien penyakit Alzheimer adalah pembentukan jerat jerat neuron yang luas, di mana akson akson bergabung membentuk plak yang disebut plak senilis. Plak senilis terdiri dari sisa sisa ujung saraf yang mati, endapan alumunium, dan fragmen-fragmen protein abnormal. Fragmen protein selalu mengandung suatu protein yang dikenal sebagai protein prekursor amiloid (PPA).
Salah satu teori mengenai pembentukan penyakit Alzheimer mengatakan bahwa pengolahan PPA yang abnormal menyebabkan protein tersebut menonjol dari membran sel saraf, hal ini agaknya menjadi pencetus pembentukan jerat jerat yang menyebabkan kematian sel. Yang menunjang teori ini adalah temuan bahwa gen yang mengkode PPA terletak di kromosom 21, yang apabila dalam kondisi triplicate (bertiga, dan bukan berpasangan), menyebabkan sindrom Down. Hampir semua pengidap sindrom Down yang dapat bertahan sampai usia 40-an akan menderita penyakit Alzheimer. Akan tetapi, pada kelompok kelompok pasien lain, paling tidak terdapat 2 kromosom lain yang dibuktikan berkaitan dengan penyakit Alzheimer, dan hal ini mengisyaratkan bahwa mungkin terdapat lebih dari 1 penyebab genetik untuk penyakit ini.
Teori ke-2 mengenai penyebab penyakit Alzheimer terjadi karena adanya risiko penyakit Alzheimer yang meningkat dengan pewarisan gen tertentu yang mengkode protein pengangkut kolesterol jenis tertentu, yang disebut apolipoprotein E (APO E4). Pewarisan gen untuk APO E4, berbeda dengan varian varian lain protein ini, APO E2 atau APO E3, dapat menyebabkan destabilisasi membran sel saraf sehingga terjadi pembentukan jerat jerat dan kematian sel.

Gambaran Klinis
Terjadi keadaan sering lupa, penurunan kemampuan menilai, perubahan kepribadian dan perilaku yang berkembang lambat dalam periode sampai 10 tahun
Sering dijumpai kehilangan ingatan jangka pendek dan masalah-masalah dengan konsep matematika

Pemeriksaan Diagnostik
Pada saat ini belum ada cara yang pasti untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer pada waktu pasien hidup, selain dengan menyingkirkan penyebab penyebab metabolik atau vaskular dari perburukan mental. Dalam beberapa tahun mendatang, diagnosis Alzheimer mungkin dapat didasarkan pada temuan temuan dari pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) yang sensitif atau pada perubahan pupil yang samar.

Terapi yang mungkin dapat dilakukan
Pendidikan kesehatan untuk penderita dan keluarganya mengenai alat bantu mengingat, jadwal diet, dan tindakan pengamanan yang dapat memperlambat perkembangan gejala

Tersedia obat (Cognex) untuk memperlambat atau mengembalikan gejala gejala dini penyakit Alzheimer. Efektivitas jangka panjang obat ini belum diketahui.