Minggu, 25 Mei 2008

Antiseptik

Antiseptik, adalah zat fisis atau kimiawi yang mencegah pembusukan, infeksi, dan perubahan analog seperti pada makanan dan jaringan hidup dengan menghancurkan atau menghentikan perkembangan mikroorganisme. Sejak dahulu pengawetan makanan menggunakan zat antiseptik seperti penggunaan panas pada proses memasak; natrium, garam, dan asam cuka pada asinan dan acar; dan pengasapan pada daging asap. Di zaman modern, prinsip antiseptik ini digunakan untuk mengawetkan makanan melalui pemanasan dan pendinginan seperti pada proses pengalengan, pasteurisasi, dan pembekuan. Iridiasi tengah diteliti sebagai alat pengawet makanan.

Praktik penggunaan antiseptik dalam perawatan dan pengobatan luka dipelopori oleh ahli bedah Inggris Joseph Lister pada tahun 1865. Dasar penelitiannya adalah temuan dari ahli fisioligi Jerman Theodor Schwann dan ahli biokimia Perancis Louis Pasteur, Lister melakukan disinfeksi luka bedah atau luka trauma dengan larutan asam karbolat, dan dalam lima tahun berhasilkan menurunkan angka kematian utama akibat amputasi yang mencapai 50% menjadi sekitar 12%. Banyak jenis antiseptik yang digunakan kemudian, di antaranya yang paling sering digunakan adalah mercury, iodine, boric acid, alcohol, the hypochlorites, mercurochrome, and Merthiolate. Klorin digunakan untuk mensterilkan air dan terutama sistem air publik (PAM) dan kolam renang.

Antibiotik

Antibiotik berasal dari bahasa Yunani (anti,“melawan”; bios, “hidup”) merupakan senyawa kimiawi yang digunakan untuk membunuh atau menghambat perkembangan kuman penyebab infeksi.

Pada awalnya istilah antibiotik digunakan hanya untuk senyawa organik, yang dihasilkan oleh bakteri atau jamus, yang bersifat toksik untuk organisme lain. Akan tetapi, saat ini istilah antibiotik digunakan secara luas termasuk untuk senyawa organik semisintetik dan sintetik. Antibiotik biasanya mengarah ke antibakteri, tetapi karena maknanya lebih luas, isitlah antibiotik juga digunakan untuk senyawa yang digunakan sebagai antimalaria, antivirus, atau antiprotozoa.

Antibiotik bekerja melalui berbagai cara. Metode yang paling umum menggolongkan antibiotik sesuai dengan caranya menghancurkan organisme penyebab infeksi. Beberapa bakteri menyerang dinding sel; ada yang merusak membran sel; dan yang paling umum menghambat sintesis asam nukleida dan protein, yaitu polimer pembentuk sel bakteri.

Rentang Efektivitas Antibiotik
Pada beberapa jenis bakteri, dinding bakteri terutama tersusun dari lapisan tebak peptidoglikan. Jenis lainnya mungkin memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis di lapisan dalam dan lapisan luar. Apabila bakteri diberi perwanaan Gram (Gram’s stain), perbedaan struktur ini menentukan pewarnaan bakteri dengan pewarna yang disebut gentian violet. Perbedaan pewarnaan ini (bakteri gram positif tampak ungu dan gram negatif tampak kemerahan atau tidak berwarna, bergantung proses yang dilakukan) merupakan dasar penggolongan bakteri menjadi gram positif (peptidoglikan tebal) dan gram negatif (peptidoglikon dan membran luar tipis), karena berkaitan denga struktur sel bakteri.

Antibakteri juga dibagi ke dalam spektrum sempit dan spektrum luas. Penisilin spektrum sempit bekerja pada bakteri gram positif. Aminoglikosida, juga spektrum sempit, bekerja pada berbagai bakteri gram negatif dan juga beberapa bakteri gram positif. Tetrasiklin dan kloramfenikol adalah obat spektrum luas karena efektif untuk bakteri gram positif dan juga gram negatif.

Antibiotik juga diklasifikasi sebagai bakterisida (membunuh bakteri) atau bakteriostatik (menghentikan pertumbuhan dan multiplikasi bakteri). Obat bakteriostatik cukup efektif karena bakteri yang dihambat pertumbuhannya akan mati atau dihancurkan oleh mekanisme pertahanan pejamu (penderita). Tetrasiklin dan sulfonamid adalah contoh antibiotik bakteriostatik. Antibiotik yang merusak membran sel menyebabkan kebocoran metabolit sel dan akhirnya membunuh organisme. Contoh senyawa ini antara lain penisilin dan sefalosporin.

Kamis, 22 Mei 2008

ALZHEIMER

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia (kemunduran kemampuan kognitif dan intelektual) yang progresif, ditandai dengan kematian saraf-saraf di otak yang meluas, terutama di daerah otak yang disebut nukleus basalis. Saraf saraf ini bertanggung jawab untuk fungsi ingatan dan pengenalan. Saraf saraf tersebut mengeluarkan asetilkolin, yang berperan penting dalam membentuk ingatan jangka pendek di tingkat biokimiawi (proses kimia di tubuh). Dibandingkan mereka yang meninggal akibat sebab sebab lain, pada otak pasien yang meninggal akibat penyakit Alzheimer terjadi penurunan sampai 90% kadar enzim yang berperan dalam pembentukan asetilkolin, yakni kolin asetiltransferase. Tidak adanya asetilkolin menyebabkan penyakit Alzheimer seperti, mudah lupa dan mengalami penurunan fungsi kognitif. Pada para pengidap penyakit ini, neurotransmitter lain juga tampak berkurang.
Penyakit Alzheimer biasanya mulai terjadi pada usia setelah 65 tahun dan menimbulkan demensia senilis (akibat penuaan). Namun, penyakit ini dapat muncul lebih dini dan menyebabkan demensia prasenilis (sebelum usia lanjut). Penyakit ini juga diturunkan secara genetik, terutama pada penyakit prasenilis.

Proses Terjadinya Alzheimer
Temuan otopsi yang paling menonjol dari pasien penyakit Alzheimer adalah pembentukan jerat jerat neuron yang luas, di mana akson akson bergabung membentuk plak yang disebut plak senilis. Plak senilis terdiri dari sisa sisa ujung saraf yang mati, endapan alumunium, dan fragmen-fragmen protein abnormal. Fragmen protein selalu mengandung suatu protein yang dikenal sebagai protein prekursor amiloid (PPA).
Salah satu teori mengenai pembentukan penyakit Alzheimer mengatakan bahwa pengolahan PPA yang abnormal menyebabkan protein tersebut menonjol dari membran sel saraf, hal ini agaknya menjadi pencetus pembentukan jerat jerat yang menyebabkan kematian sel. Yang menunjang teori ini adalah temuan bahwa gen yang mengkode PPA terletak di kromosom 21, yang apabila dalam kondisi triplicate (bertiga, dan bukan berpasangan), menyebabkan sindrom Down. Hampir semua pengidap sindrom Down yang dapat bertahan sampai usia 40-an akan menderita penyakit Alzheimer. Akan tetapi, pada kelompok kelompok pasien lain, paling tidak terdapat 2 kromosom lain yang dibuktikan berkaitan dengan penyakit Alzheimer, dan hal ini mengisyaratkan bahwa mungkin terdapat lebih dari 1 penyebab genetik untuk penyakit ini.
Teori ke-2 mengenai penyebab penyakit Alzheimer terjadi karena adanya risiko penyakit Alzheimer yang meningkat dengan pewarisan gen tertentu yang mengkode protein pengangkut kolesterol jenis tertentu, yang disebut apolipoprotein E (APO E4). Pewarisan gen untuk APO E4, berbeda dengan varian varian lain protein ini, APO E2 atau APO E3, dapat menyebabkan destabilisasi membran sel saraf sehingga terjadi pembentukan jerat jerat dan kematian sel.

Gambaran Klinis
Terjadi keadaan sering lupa, penurunan kemampuan menilai, perubahan kepribadian dan perilaku yang berkembang lambat dalam periode sampai 10 tahun
Sering dijumpai kehilangan ingatan jangka pendek dan masalah-masalah dengan konsep matematika

Pemeriksaan Diagnostik
Pada saat ini belum ada cara yang pasti untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer pada waktu pasien hidup, selain dengan menyingkirkan penyebab penyebab metabolik atau vaskular dari perburukan mental. Dalam beberapa tahun mendatang, diagnosis Alzheimer mungkin dapat didasarkan pada temuan temuan dari pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) yang sensitif atau pada perubahan pupil yang samar.

Terapi yang mungkin dapat dilakukan
Pendidikan kesehatan untuk penderita dan keluarganya mengenai alat bantu mengingat, jadwal diet, dan tindakan pengamanan yang dapat memperlambat perkembangan gejala

Tersedia obat (Cognex) untuk memperlambat atau mengembalikan gejala gejala dini penyakit Alzheimer. Efektivitas jangka panjang obat ini belum diketahui.

Rabu, 21 Mei 2008

Epiktasis atau Mimisan

Epiktasis atau perdarahan hidung, sering ditemukan, dan 90% dapat berhenti sendiri. Epistaksis ini sering dikenal dengan istilah “mimisan” dan bukan penyakit, tetapi merupakan gejala dari suatu kelainan atau gangguan.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan mimisan. Mimisan paling sering terjadi karena adanya iritasi atau cedera di pembuluh vena kecil pada septum (sekat yang membagi dua sisi lubang hidung). Vena ini dapat pecah (ruptur) secara spontan, atau pecah akibat bersin atau batuk yang meningkakan tekanan darah di dalam vena hidung.
Biasanya, mimisan bukan kondisi yang serius karena dapat berhenti sendiri. Akan tetapi, mimisan dapat merupakan tanda adanya penyakit penyebab yang serius seperti tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, infeksi, tumor pada hidung, jenis kanker tertentu (seperti leukemia), atau penyakit pembuluh darah itu sendiri.
Mimisan yang tidak dapat segera berhenti dapat ditangani dengan menekan area hidung yang mengeluarkan darah. Cara lain dengan kompres dingin kadang dapat membantu. Akan tetapi, jika tindakan sederhana di atas tidak juga berhasil mengendalikan perdarahan, perlu tindakan medis segera. Dokter atau tenaga kesehatan lainnya perlu diberi tahu jika seseorang pernah mengalami perdarahan hidung yang hebat atau berulang.

Selasa, 20 Mei 2008

Akut dan Kronik, Bedanya?

Penggunaan istilah akut dan kronik untuk menggambarkan kondisi suatu penyakit sering kali salah kaprah. Hal ini umum terjadi di kalangan non medis yang tidak mengetahui perbedaan akut dan kronik.
Akut, digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi atau penyakit yang terjadi tiba-tiba, dalam waktu singkat, dan biasanya menunjukkan gangguan yang serius. Untuk menggambarkan tingkat nyeri (rasa sakit), istilah akut digunakan untuk menggambarkan rasa sakit yang hebat dan tajam. Demikian juga untuk perdarahan akut, menandakan perdarahan yang terjadi cepat dan tiba-tiba dan biasanya merupakan kondisi yang serius yang memerlukan pertolongan medis segera.
Kronik, istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu kondisi yang terjadi dalam periode lama, berulang, terjadi perlahan-lahan dan makin serius. Berbeda dengan akut, kondisi kronik adalah proses yang terjadi secara perlahan, makin lama makin parah atau menjadi berbahaya. Sebagai contoh, suatu penyakit mungkin ditandai gejala yang ringan sehingga si penderita membiarkan saja tanpa diobati. Seiring dengan waktu, penyakitnya makin parah dan berpotensi membahayakan.

Minggu, 18 Mei 2008

RADIKAL BEBAS

Radikal bebas adalah yang kehilangan satu elektronnya (seharusnya berpasangan) sehingga bermuatan listrik. Untuk menetralkannya, melokul radikal bebas berusaha mengambil satu elektron dari atau mendonasikan elektronnya ke molekul terdekat. Proses ini disebut oksidasi, dan menciptakan radikal bebas baru, yang kemudian akan mencari molekul lain untuk mengambil atau mendonasikan elektron, sehingga terjadi reaksi berantai yang menyebabkan kerusakan beratus-ratus molekul

Sekitar 5% oksigen yang dihirup manusia diubah ke dalam bentuk radikal bebas. Keberadaan radikal bebas tidak selalu membahayakan, karena merupakan hasil dari metabolisme normal yang penting untuk fungsi tubuh, seperti melawan penyakit atau cedera. Ketika tubuh mengalami kerusakan, sistem pertahanan tubuh akan mengirimkan sel-sel imun ke area yang sakit. Sel-sel ini menghasilkan radikal bebas sebagai upaya untuk menghancurkan zat asing atau kuman penyakit.

Seiring dengan perkembangan usia, tubuh terpapar berbagai polutan dari lingkungan seperti asap rokok, sinar matahari, atau asap kendaraan, menyebabkan tubuh penuh dengan radikal bebas. Jumlah radikal bebas yang berlebihan menyebabkan kerusakan karena mengambil komponen penting tubuh, seperti protein, lipid, dan DNA (asam deoksiribronukleat)—molekul pembawa informasi genetik untuk setiap sel hidup. Reaksi ini menyebabkan sel lebih rentan terhadap karsinogen (penyebab kimiawi kanker).

Radikal bebas dapat menyebabkan penyakit jantung dengan mengoksidasi LDL (kolesterol buruk) sehingga berisiko mengalami pengerasan pembuluh darah arteri, yakni kondisi yang berakhir dengan penyakit jantung. Radikal bebas juga dapat menyebabkan katarak, yaitu lensa mata berkabut sehingga menyebabkan kebutaan.
Radikal bebas bertanggung jawab untuk beberapa penyakit seperti artritis, penyakit jantung, dan penyakit Alzheimer. Apabila enzim alami pengontrol gagal, radikal bebas di dalam tubuh menyerang lemak, protein, dan asam nukleat.



Sumber:
"Antioxidant." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

Radical (chemistry). Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

ANTIOKSIDAN

Antioksidan adalah molekul yang dapat menetralkan senyawa berbahaya yang disebut radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang merusak sel, menguras cadangan makanan, dan mengurai zat seperti karet, bensin, dan .minyak pelumas. Antioksidan dapat berupa enzim dalam tubuh, atau suplemen vitamin. Antioksidan biasanya ditambahkan pada logam, minyak, makanan, dan bahan-bahan lain untuk mencegah kerusakan radikal bebas.
Antioksidan menghentukan reaksi pembentukan radikal bebas. Beberapa antioksidan sendiri merupakan radikal bebas, yang mendonasikan elektrin untuk menstabilkan dan menetralisir radikal bebas berbahaya. Antioksidan lain bekerja melawan molekul yang membentuk radikal bebas, menghancurkannya sebelum mulai mendominasi efek yang menyebabkan kerusakan oksidatif.

Antioksidan bekerja mengendalikan kadar radikal bebas sebelum menjadi perusak oksidatif pada tubuh. Sebagai contoh, enzim-enzim tubuh tertentu, seperti dismutasi superoksidasi, bekerja dengan zat kimia lain untuk mengubah radikal bebas menjadi molekul tidak berbahaya. Berdasarkan penelitian memperlihatkan bahwa diet makanan tinggi antioksidan dapat menurunkan risiko kanker dan penyakit jantung. Penelitian lebih lanjut tentang manfaat antioksidan untuk kesehatan masih dilakukan.

Vitamin C atau dikenal juga dengan asam askorbat, diketahui mengandung antioksidan yang dapat mencegah katarak dan kanker di lambung, tenggorokan, dan pankreas. Vitamin c juga mencegah oksidasi kolesterol LDL, menurunkan risiko penyakit jantung. Makanan kaya vitamin C antara lain strawberi, brokoli, dan jeruk.

Beta karoten yang banyak ditemukan di wortel mengabsorpsi molekul target dalam membran sel. Penelitian memperkirakan, selain menurunkan risiko katarak, kanker, dan serangan jantung, beta karotem juga dapat menurunkan risiko stroke. Beta karoten alami dapat ditemukan di jeruk, buah-buah berwarna dan sayuran hijau. Sumber bate karoten yang lain adalah kentang manis, bayam, dan wortel. Sekitar 5 .
Vitamin E juga merupakan antioksidan yang dapat mencegah penyakit jantung dan katarak serta memperkuat sistem imun. Sumber vitamin E yang baik adalah minyak biji gandum dan biji bunga matahari.

"Antioxidant." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

Jumat, 16 Mei 2008

Abortus alias keguguran

Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin dalam rahim.

Keguguran atau abortus disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:
- Kelainan sel telur ibu, biasanya terjadi di awal kehamilan.
- Kelainan anatomi organ reproduksi ibu, misalnya mengalami kelainan atau gangguan pada rahim.
- Gangguan sirkulasi plasenta akibat ibu menderita suatu penyakit, atau kelainan pembentukan plasenta.
- Ibu menderita penyakit berat seperti infeksi yang disertai demam tinggi, penyakit jantung atau paru yang kronik, keracunan, mengalami kekurangan vitamin berat, dll.
- Antagonis Rhesus ibu yang merusak darah janin.

Ada beberapa jenis abortus atau keguguran, yaitu:
Abortus Iminens
Ditandai dengan perdarahan pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, ibu mungkin mengalami mulas atau tidak sama sekali. Pada abortus jenis ini, hasil konsepsi atau janin masih berada di dalam, dan tidak disertai pembukaan (dilatasi serviks)
Abortus Insipiens
Terjadi perdarahan pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan disertai mulas yang sering dan kuat. Pada abortus jenis ini terjadi pembukaan atau dilatasi serviks tetapi hasil konsepsi masih di dalam rahim.
Abortus Inkomplet
Terjadi pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, sementara sebagian masih berada di dalam rahim. Terjadi dilatasi serviks atau pembukaan, jaringan janin dapat diraba dalam rongga uterus atau sudah menonjol dari os uteri eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan, sehingga harus dikuret.
Abortus komplet
Pada abortus jenis ini, semua hasil konsepsi dikeluarkan sehingga rahim kosong. Biasanya terjadi pada awal kehamilan saat plasenta belum terbentuk. Perdarahan mungkin sedikit dan os uteri menutup dan rahim mengecil. Pada wanita yang mengalami abortus ini, umumnya tidak dilakukan tindakan apa-apa, kecuali jika datang ke rumah sakit masih mengalami perdarahan dan masih ada sisa jaringan yang tertinggal, harus dikeluarkan dengan cara dikuret.
Abortus Servikalis
Pengeluaran hasil konsepsi terhalang oleh os uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga mengumpul di dalam kanalis servikalis (rongga serviks) dan uterus membesar, berbentuk bundar, dan dindingnya menipis.